Obrolan Rakyat, Sangatta – Bupati Ardiansyah Sulaiman berbagi kisah menyentuh tentang bagaimana pendidikan inklusi mengubah hidup seorang anak di wilayah terpencil. Cerita tersebut datang dari Pulau Miang, di mana seorang anak penyandang tuna rungu berhasil membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berprestasi. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa sistem inklusi di sekolah umum dapat berjalan efektif.
Kisah ini sekaligus menepis anggapan bahwa anak dengan hambatan pendengaran harus selalu disekolahkan di institusi khusus seperti SLB. Jika lingkungan sekolah umum memberikan dukungan yang tepat, anak-anak ini mampu beradaptasi dan bersaing secara sehat. Fenomena di Pulau Miang ini kini dijadikan sebagai motivasi bagi sekolah-sekolah lain di Kutai Timur untuk lebih terbuka.
”Inklusi itu artinya yang berkebutuhan khusus, tapi kalau yang khusus tertentu mungkin tidak bisa, misalnya tuna rungu itu harus ke SLB, tapi ada pengalaman luar biasa di Pulau Miang,” kenang Ardiansyah mengenai fleksibilitas pendidikan di lapangan.
Bupati menceritakan dengan bangga bagaimana anak tersebut memiliki kepercayaan diri yang luar biasa hingga terlibat dalam pembuatan film bersama dirinya. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan inklusi tidak hanya soal angka di rapor, tetapi tentang pembangunan karakter dan keberanian. Integrasi sosial antara anak berkebutuhan khusus dengan anak reguler menjadi nilai tambah yang sangat besar bagi kedua belah pihak.
Pengalaman ini mendorong pemerintah untuk terus menyuarakan pentingnya inklusi sosial di tengah masyarakat. Ardiansyah ingin agar masyarakat tidak lagi memandang sebelah mata terhadap kemampuan penyandang disabilitas. Dengan memberikan panggung dan kesempatan yang sama, mereka bisa berkontribusi bagi daerah layaknya warga negara lainnya.
”Ada pengalaman di Pulau Miang, anak tuna rungu sekolah di umum, yang kemarin memerankan film berlayar bersama Bapak, itu luar biasa,” puji Ardiansyah terhadap keberanian siswa inklusi tersebut.
Keberhasilan integrasi di tingkat sekolah diharapkan akan berlanjut hingga ke dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat yang lebih luas. Pemerintah Kabupaten Kutai Timur berkomitmen untuk terus mengawal kebijakan yang pro-disabilitas di berbagai sektor. Pendidikan inklusi hanyalah langkah awal dari visi besar menciptakan masyarakat yang saling menghargai dan mendukung satu sama lain.
Semangat yang dibawa dari Pulau Miang ini diharapkan menular ke seluruh pelosok Kutai Timur, dari pesisir hingga pegunungan. Bupati mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadi pendukung bagi anak-anak inklusi di sekitar mereka. Dengan gotong royong, visi Kutai Timur sebagai kabupaten yang inklusif akan segera menjadi kenyataan yang membanggakan bagi semua.
”Makanya kita siapkan program ini agar di masing-masing sekolah itu ada anak inklusi, mereka tetap bisa bersekolah dengan teman-temannya yang lain,” tutupnya. (Adv)







